Mewakili Pengurus KAGAMA, Arif Afandi selaku Dewan Pakar Pimpinan Pusat KAGAMA, mengucapkan selamat kepada para wisudawan yang sejak hari ini menjadi bagian dari KAGAMA. Saat ini wisudawan bukan sedang masuk dalam organisasi baru tetapi menjadi bagian dari keluarga yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan di berbagai belahan dunia. Keluarga dengan berbagai profesi, generasi, dan pandangan yang dipersatukan dalam prinsip guyub, rukun, dan migunani. Ia juga menegaskan, status keluarga yang diemban tidak akan pernah putus sebagaimana arti kata keluarga.
“Selamat datang di keluarga alumni UGM, rawat nama baik almamater, persaudaraan, dan terus menjadi pribadi yang migunani serta dapat memberi manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan,” ucapnya.
Baca Juga:
PAMA, UGM, dan Otorita IKN Hijaukan Nusantara Lewat Penanaman Pohon di Eco-Edu Forest
Menurut Arif, Alumni UGM terbagi dalam dua kategori yaitu lulusan, di mana mahasiswa berhasil hingga tuntas dan memiliki ijazahnya dan jebolan, di mana semua orang yang pernah menginjakkan kakinya di bulaksumur maupun sekip dan pernah belajar di ruang-ruang belajar yang ada di UGM meskipun tidak mengantongi ijazah di akhir.
"Di UGM baik yang lulusan maupun jebolan diakui statusnya sama sebagai alumni. Hal ini dikarenakan pengalaman, nilai, dan jejak kehidupan yang pernah ditempa di kampus menjadi aspek yang lebih penting dibandingkan dengan ijazah. Saya ingin mengungkapkan bahwa sekali menjadi bagian dari UGM, selamanya akan menjadi keluarga UGM,” ungkapnya.
Pada periode wisuda kali ini, Dr. Surani Hasanati, S.Si., M.Sc., yang berasal dari program studi Doktor Ilmu Geografi, turut menyampaikan sambutan mewakili seluruh wisudawan. Ia meyakinkan bahwa perjalanan studi yang ditempuh bukanlah waktu yang singkat dan sarat dengan ujian, ketekunan, dan rasa syukur serta tidak hanya tentang mengejar gelar.
Baca Juga:
Soal Insiden di Diskusi UGM, Wamentan Sudaryono Beri Klarifikasi
Melalui transformasi ilmiah yang mengubah cara berpikir dan memandang dunia serta pengajaran bahwa ilmu pengetahuan adalah alat yang nilai utamanya pada aplikasinya. “Perjalanan ini mengajarkan kita tentang makna dari sebuah kegigihan, keberanian yang bukan berarti tanpa rasa takut, melainkan tentang langkah kecil yang tetap diambil meskipun hari telah ragu dan rada sudah letih,” tuturnya.
Surani mengakhiri dengan pernyataan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari kontribusi pada masyarakat. Lantaran saat ini, dunia sedang menuju fase kebenaran yang merupakan produk dari ilmu pengetahuan yang ditempelkan pada cara atau penjelasan terhadap fenomena tertentu.
“Saya mengajak kita semua untuk terus memelihara semangat belajar, beradaptasi dengan perubahan, berkolaborasi dan berani menciptakan inovasi sekecil apapun menjadi subjek berdampak yang berintegritas untuk membangun Negara Indonesia yang berkelanjutan,” ungkapnya.