PAPUA.WAHANANEWS.CO, Nabire - Lingkar Studi Papua (LSP) kembali membuka ruang diskusi literasi melalui kegiatan lapak baca yang digelar di Kedai Kopi Titik Nol, Wonorejo, Nabire, Selasa (27/1/2026) sore.
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama tentang pentingnya literasi dalam membaca realitas sosial, hukum, dan politik yang memengaruhi nasib manusia Papua.
Diskusi yang dipandu Pengarah Lapak Baca LSP, Boas Bayage, diikuti oleh para pegiat literasi dan anak-anak muda Papua. Dalam perbincangan tersebut, literasi tidak dimaknai sekadar sebagai aktivitas membaca buku, melainkan sebagai upaya membangun kesadaran kritis dan keberanian memahami sejarah serta situasi Papua dari sudut pandang rakyat.
Baca Juga:
Gedung Perpustakaan Daerah Muara Enim Dipastikan Operasional 2026, Bupati Edison Lakukan Soft Launching
Boas Bayage menjelaskan merupakan bentuk perlawanan intelektual terhadap ketidakadilan yang selama ini membungkam suara dan pengalaman manusia Papua.
"Mulai sekarang, Melalui literasi, masyarakat diajak untuk meragukan hal-hal yang dianggap wajar, mempertanyakan sistem yang menindas, serta memahami hukum dan kekuasaan yang kerap tidak berpihak pada rakyat kecil", ungkapnya kepada awak media ini (Selasa, 27/01/2026.
Boas Bayage menegaskan bahwa ancaman terhadap manusia Papua tidak hanya datang dari tekanan eksternal, tetapi juga dari ketidakmampuan membaca dan memahami kondisi sendiri, baik secara sosial, politik, maupun budaya.
"Oleh karena itu, literasi dipandang sebagai jalan alternatif untuk membangun kesadaran kolektif, memulihkan sejarah, dan memperkuat solidaritas antargenerasi Papua", jelasnya.
Baca Juga:
Generasi Muda Didorong Perkuat Literasi Kebijakan Publik, Kemensetneg Buka Dialog Bersama Mahasiswa Unpad
Bayage menyatakan juga, ditengah berbagai tekanan hukum dan politik, lapak baca menjadi ruang aman bagi lahirnya gagasan-gagasan kritis.
"Dari diskusi sederhana di meja kopi, tumbuh kesadaran bahwa masa depan Papua tidak semata ditentukan oleh kekuasaan, tetapi juga oleh keberanian rakyatnya untuk berpikir, membaca, dan menulis tentang dirinya sendiri" Imbuhnya.
Melalui kegiatan ini, LSP menyerukan pentingnya membangun ilmu pengetahuan yang berpihak pada rakyat, berakar pada pengalaman hidup manusia Papua, serta menjadi alat pembebasan, bukan penaklukan. Literasi, bagi LSP, adalah fondasi penting untuk mempertahankan martabat, keadilan, dan kemanusiaan Papua.