PAPUA.WAHANANEWS.CO, Wamena - Setiap perubahan besar selalu berawal dari kesatuan dan komitmen yang kuat. Hal itu memacu kesadaran Midiles Kogoya bersama rekannya bersepakat memulai sebuah gerakan kebangkitan literasi, bergerak dari Kota Karubaga menuju dusun-dusun di seluruh wilayah Tolikara dan sekitarnya.
Salah satu pegiat literasi di Papua Pegunungan, Angginak Sepi Wanimbo dalam keterangan tertulisnya di Wamena dikutip Kamis (29/1/2026) menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para guru dan relawan literasi yang terlibat dalam gerakan mulia tersebut.
Baca Juga:
54 Peserta Ikuti Seleksi Duta Baca Muara Enim 2025
"Gerakan literasi bukanlah jalan yang menjanjikan imbalan materi. ini adalah panggilan nurani, kerja sukarela, dan bentuk pengabdian tulus bagi masa depan generasi Papua," kata Angginak Sepi Wanimbo.
Mereka yang bergerak di bidang literasi sejatinya bekerja tanpa upah, tanpa sorotan, bahkan sering tanpa dukungan memadai.
Oleh karena itu, komitmen yang telah diambil oleh para guru dan pegiat literasi ini seharusnya mendapat dukungan luas dari berbagai elemen, baik pemerintah daerah, gereja, organisasi kepemudaan, tokoh adat, intelektual, kader, serta seluruh lapisan masyarakat.
Baca Juga:
Gedung Perpustakaan Daerah Muara Enim Dipastikan Operasional 2026, Bupati Edison Lakukan Soft Launching
"Saya meyakini bahwa gerakan literasi ini akan menjadi salah satu pilar penting dalam membantu pemerintah daerah membangun kualitas manusia Papua yang kritis, bijaksana, dan cerdas. Pembangunan manusia tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur, tetapi oleh kemampuan berpikir, membaca, dan memahami dunia," ujar Angginak.
Kata dia, langkah awal gerakan literasi ini telah dimulai di ibu kota Kabupaten Tolikara, Karubaga. Ke depan, gerakan ini akan menjangkau dusun-dusun terpencil. Namun, salah satu kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan buku bacaan.
Ia mengajak para pegiat literasi, lembaga, serta siapa pun yang memiliki kepedulian dan hati besar bagi kemajuan Papua untuk berpartisipasi melalui sumbangan buku bacaan yang layak dan bermutu.
"Mendidik anak-anak Papua tidak cukup hanya melalui sekolah formal. Diperlukan gerakan membaca yang hidup di tengah masyarakat. Seluruh Tanah Papua membutuhkan kebangkitan budaya baca sebagai fondasi untuk mencerdaskan anak negeri," terangnya.
Dibandingkan dengan daerah-daerah lain di luar Papua, banyak wilayah telah memiliki sarana dan prasarana pendidikan yang memadai serta tenaga pendidik yang cukup. Sebaliknya, di Papua masih ditemukan keterbatasan fasilitas pendidikan dan kekurangan tenaga pengajar. Dalam kondisi inilah gerakan literasi menjadi salah satu jalan strategis untuk menjembatani kesenjangan dan mencerdaskan generasi Tolikara dan Papua secara luas.
Hari ini, banyak anak-anak Papua menjadi korban berbagai penyakit sosial: seks bebas, minuman keras, penyalahgunaan narkoba, ganja, hingga lem aibon. Fenomena ini tidak terjadi tanpa sebab. Lemahnya perhatian dan keterlibatan orang tua, intelektual, tokoh masyarakat, pemerintah, dan gereja turut menyumbang meningkatnya angka korban penyakit sosial tersebut.
"Akar dari semua persoalan itu adalah kurangnya pengetahuan dan informasi yang benar, sehingga anak-anak tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang merusak masa depan mereka. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab moral dan intelektual bagi setiap anak daerah yang telah menempuh pendidikan tinggi untuk mengambil langkah nyata dalam menyelamatkan manusia Papua," ungkapnya.
Ilmu yang diperoleh dari bangku perguruan tinggi, jika tidak diabdikan sedikit pun bagi rakyat, maka hidup itu sesungguhnya menjadi sia-sia. Sebaliknya, ilmu yang digunakan untuk berbuat baik, meskipun kecil, akan membawa manfaat besar bagi sesama manusia.
Ironisnya, tidak sedikit orang yang kembali ke daerah asal dengan niat membangun, namun dalam praktiknya justru menggunakan ilmunya sebagai senjata untuk mempersulit orang lain, menciptakan konflik, atau bahkan merugikan masyarakat. Ini adalah pengkhianatan terhadap hakikat pendidikan itu sendiri.
Kecerdasan yang Tuhan berikan kepada setiap manusia sejatinya adalah anugerah untuk menghadirkan kebaikan. Mari kita menjadi lilin-lilin kecil yang menerangi kegelapan, baik di kota maupun di kampung, di mana pun kita berada.
Gerakan kebangkitan literasi menuntut solidaritas yang kuat. Inilah saatnya anak-anak negeri Papua bangkit, bersatu hati, dan bergerak bersama demi pembangunan manusia yang berkelanjutan.
"Mari membudayakan membaca dan menulis di setiap waktu dan di setiap tempat. Karena dengan membaca, kita sedang menjelajahi dunia. Sebaliknya, tanpa membaca, kita akan terjebak dalam kegelapan. Bersatu kita kuat, bersatu kita maju, bersatu kita menentukan masa depan,” demikian Angginak Sepi Wanimbo.
[Redaktur: Hotbert Purba]