PAPUA.WAHANANEWS.CO, Yahukimo - Saya mendukung Prabowo Subianto bukan untuk mencari popularitas. Saya tidak mengemis jabatan dan uang. Alasan saya mendukung Prabowo Subianto adalah untuk penyelesaian akar konflik Papua Barat.
Mungkin saja orang akan berkata, Gembala Socratez Yoman bermimpi kosong mengharapkan Prabowo Subianto, orang yang tangannya berlumuran darah dan pelanggar HAM.
Baca Juga:
Naniek Deyang Mundur dari Kepala BGN
Saya mempunyai iman, "Impossible for people is possible for God", Tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Tuhan.
Karena itu, saya kerjakan saja bagian saya, walaupun jalannya terlalu panjang, mengecewakan, banyak batu kerikil, penuh onak dan duri. Karena mata Tuhan selalu ada bersama mereka yang berniat baik, berhati mulia, dan tidak menyimpan dendam.
1. Menjiwai Karakter 8 Presiden RI
Baca Juga:
Presiden Prabowo Blak-blakan Resah Timnas Indonesia Belum Lolos Piala Dunia: Jangan Anggap Enteng Sepak Bola
Saya sudah lama mempelajari dan menjiwai karakter 8 Presiden Indonesia: Ir. Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, dan Prabowo Subianto. Saya temukan mereka memiliki keunggulan dan keterbatasan masing-masing.
Saya fokus mempelajari karakter Prabowo Subianto. Prabowo adalah pribadi yang berbudi luhur, jujur, dan kata-katanya tidak pernah diedit, tidak dipoles-poles, dan selalu mengatakan apa adanya.
Saya menerobos jalan ini dengan keyakinan iman dan kemanusiaan saya untuk menolong bangsa saya dengan cara yang tidak lazim. Saya berusaha membantu Prabowo dengan memberikan gambaran yang jelas, benar, dan jujur tentang akar konflik Papua Barat berbasis data, fakta, riset, objektif, dan rasional. Saya yakin Presiden Prabowo akan mengambil langkah-langkah yang baik untuk mengakhiri konflik Papua Barat.
2. Merawat Optimisme
Penilaian mayoritas orang adalah pesimis. Presiden RI Prabowo Subianto tidak akan mencari solusi akar konflik Papua Barat yang sudah kronis selama enam dekade ini.
Dalam keadaan pesimisme ini, saya berupaya menerobos kegelapan pikiran dan hati mayoritas rakyat dengan menilai Presiden Prabowo dari persepsi dan perspektif yang berbeda.
Saya mau melihat Prabowo secara utuh, seperti Tuhan Allah melihatnya, dan bukan seperti ukuran manusia yang selalu melihat sisi negatif dan keterbatasan manusia, tanpa melihat dan menghargai harta berharga yang ditulis Tuhan di loh-loh hati manusia sebagai gambar dan rupa Allah.
Jujur, saya tidak mengabaikan, mengesampingkan, atau menutupi kejahatan pelanggaran HAM berat yang melibatkan Prabowo pada 1998 dan 1999. Itu adalah fakta dan sejarah kelam yang perlu diselesaikan dengan pendekatan dialogis yang humanis, untuk menuju "win-win solution", tanpa mengorbankan salah satu pihak.
Persepsi saya adalah melihat nilai-nilai positif yang ada dalam diri Prabowo Subianto sebagai seorang manusia yang tentu memiliki kelebihan dan keterbatasan.
Kelebihan Presiden Prabowo saya lihat sebagai cahaya dari jendela dan pintu yang masuk menerangi hati dan pikiran manusia yang pesimis, negatif, dan gelap, supaya hati mereka terbuka dan pikiran menjadi terang. Dengan demikian kita membangun "trust" dan sebuah jembatan untuk melihat akar konflik Papua Barat yang sudah kronis.
Rakyat dan bangsa Papua membutuhkan harapan hidup, pencerahan baru, paradigma baru, persepsi baru, "mindset" baru, dan solusi-solusi baru. Bukan pendapat, analisis, dan penafsiran lama yang membawa kami ke jalan ketidakpastian, kecemasan, kekecewaan, dan kegelapan.
3. Syarat Penyelesaian
Syarat utama untuk penyelesaian akar konflik Papua Barat adalah kita harus membebaskan diri dari perasaan dendam, benci, sakit hati, kepahitan, tidak senang, dan tidak suka kepada orang lain.
Seperti biasanya, orang sakit tidak dapat menolong orang sakit. Hanya orang sehat yang dapat menolong orang sakit. Orang-orang yang berada dalam penjara kebencian dan dendam tidak akan pernah membebaskan bangsanya dari penindasan. Kita harus membangun "trust".
Dari perspektif ini saya percaya, bagi orang-orang yang mau bersahabat dengan jujur dan tulus kepada musuh atau lawan, Tuhan akan hadirkan jalan menyelesaikan persoalan-persoalan sulit dengan semangat kesetaraan, saling percaya, dan saling menghormati. Jalan ke arah itu harus dirintis dalam persepsi dan paradigma baru dengan standar nilai kejujuran, kebenaran, keadilan, dan kasih.
Saya melihat komitmen mulia dari Presiden Prabowo Subianto tercermin sebagai pribadi yang berbudi luhur, berkarakter jujur, berwatak tidak berpura-pura, tidak munafik, dan selalu berbicara apa adanya serta mewujudkannya. Presiden Prabowo adalah manusia yang unik dan langka. Saya respek dan mengapresiasi Prabowo dalam konteks ini.
4. Tiga Pijakan Optimisme dari Prabowo Subianto
Pertama: Prabowo Berkarakter Jujur dan Berbudi Luhur, Beberapa ungkapan dari hati nurani Prabowo "Satu hal, saya ini orang yang cepat terharu. Terus terang saja. Saya tidak suka lihat penderitaan... Kalau Anda tidak bisa membantu banyak orang, bantulah satu orang. Kalau Anda tidak bisa membantu satu orang, jangan bikin orang itu susah."
"Kita harus berani jujur kepada diri kita sendiri. Katakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Saya bukan orang yang suka menjilat.
"Saya ingin menegakkan kebenaran. Saya ingin menghilangkan korupsi. Saya ingin rakyat saya sejahtera. Saya tidak mau lihat orang miskin di Indonesia."
Kedua: Komitmen Prabowo dalam Kampanye Politik, masalah HAM itu menjadi sesuatu yang harus kita utamakan. Dan di antaranya juga kita harus lindungi rakyat Papua." Antara, 12/12/2023
"Pendekatan hukum, kita tentunya ingin pendekatan yang "soft". Sekarang pendekatan dengan penyelesaian politik yang damai. Silakan tutup buku, tinggalkan senjatamu, kembali ke masyarakat. Amnesti kalau perlu. Detik Jatim, 24/11/2023
Ketiga: Pidato Pertama Presiden Prabowo Subianto "Marilah kita berani mawas diri, mari kita berani menatap wajah kita sendiri, dan mari kita berani memperbaiki diri kita sendiri.
"Demokrasi kita harus demokrasi yang, santun, demokrasi di mana berbeda pendapat tanpa permusuhan... Demokrasi kita harus demokrasi yang sejuk, demokrasi yang damai, demokrasi yang menghindari kemunafikan.
"Kita anti penjajahan, karena kita pernah dijajah. Kita anti penindasan, karena kita pernah ditindas... Karena itu kita harus solidaritas, kita harus membela rakyat-rakyat yang tertindas di dunia ini."
Penutup, melihat secara utuh dan terpadu semua ungkapan dan pernyataan yang keluar dari hati nurani dan pikiran mulia Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto, saya yakin Presiden Prabowo akan mengambil langkah-langkah yang baik dan positif untuk mengakhiri konflik Papua Barat.
Dari keyakinan itu, saya persembahkan kepada Presiden Prabowo buku berjudul:
"Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua"
Kita jangan matikan optimisme. Kita harus bangun, bangkitkan, dan hidupkan optimisme dalam melihat penyelesaian akar konflik Papua Barat yang menahun. Mari kita ciptakan perdamaian dunia yang permanen untuk semua umat manusia.
Tuhan Yesus memberikan hikmat kepada kita semua untuk melihat akar konflik Papua Barat dengan mata iman dan mata rohani, bukan mata politik dan kepentingan lainnya.
Penulis: Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua, Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC) , Anggota Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC), Anggota Baptist World Alliance (BWA).
[Editor/Redaktur: Hotbert Purba]