PAPUA.WAHANANEWS.CO, Nabire - Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman mengapresiasi tindakan Kapolda Papua Tengah Brigjen. Pol. Jermias Rontini, S.I.K., M.Si., yang dinilai berhasil mengawal aksi damai Komite Nasional Papua Barat KNPB di Nabire pada Jumat (15/8/2026) tanpa tindakan represif.
Menurut Yoman, cara humanis yang ditunjukkan Brigjen Rontini saat massa menyuarakan penolakan terhadap Perjanjian New York 15 Agustus 1962 merupakan potret ideal Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Baca Juga:
Kapolri Pimpin Serah Terima Jabatan 6 Pejabat Tinggi Polri, Brigjen Alfred Papare Dilantik Jadi Kapolda Papua Tengah
"Legacy" Polisi Peradaban dan Kemanusiaan
"Ini langkah sederhana tapi berdampak luas bagi kehormatan nilai kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian. Karena tidak ada yang saling melukai," ujar Yoman dalam pernyataan tertulisnya.
"Kapolda Rontini telah mengukir "legacy" abadi. Namanya akan dikenang sebagai polisi peradaban dan kemanusiaan," tegasnya.
Baca Juga:
Klarce Jelaskan Makna dari HUT ke 15 Tahun KNPB
Selesaikan Perbedaan dengan Dialog
Yoman menegaskan perbedaan ideologi dan nasionalisme tidak bisa diselesaikan dengan memblokade aksi damai, membentuk milisi, apalagi menembak rakyat.
"Ini masalah kemanusiaan yang harus diselesaikan dengan dialog, komunikasi, dan negosiasi bermartabat. Langit dan NKRI tidak runtuh karena ada demo. Kita boleh berbeda iman dan nasionalisme, tapi soal kemanusiaan kita harus berdiri bersama," ujarnya.
Hindari Kesalahan Masa Lalu
Yoman juga mengingatkan agar tidak mengulang kesalahan masa lalu dengan membentuk kelompok milisi yang membenturkan sesama orang Papua. Ia mencontohkan pengalaman Timor Timur yang hingga kini masih menyisakan luka.
"Belajar dari Timor Leste. Jangan sampai ada 'Eurico Guterres' baru di Papua. Itu cara orang yang kehilangan hikmat dan akal sehat," kata Yoman.
Jadi Pedoman bagi Jajaran Polisi di Papua
Ia mengimbau seluruh Kapolda dan jajaran kepolisian di Tanah Papua, dari Sorong sampai Merauke, menjadikan tindakan Brigjen Rontini sebagai pedoman dalam menghadapi perbedaan pendapat di Papua.
[Redaktur: Hotbert Purba]