PAPUA.WAHANANEWS.CO, Wamena – Kecanduan media sosial dan konten digital disebut sebagai “narkoba digital” yang diam-diam merampas masa depan generasi muda.
Berbeda dengan narkotika, dampaknya tidak langsung merusak fisik, tetapi menggerus waktu, fokus, dan produktivitas.
Baca Juga:
Ini Kesalahan yang Membuat 99,9 Persen Orang Kehilangan Masa Depan Menurut Jack Ma
Pernyataan itu disampaikan penulis Yulans FY Wenda, S.HI dalam rilis opini yang diterima redaksi, Kamis (9/7/2026).
Menurutnya, telepon genggam yang setiap hari digenggam masyarakat kini menjadi media penyebaran “racun modern” paling masif.
Waktu dan Fokus Tergerus Dopamin
Baca Juga:
Andhika Satya Wasistho Ingatkan Bahaya Pembajakan IP yang Ancam Kreativitas Anak Muda
“Narkoba digital” adalah istilah kiasan untuk menggambarkan kecanduan terhadap media sosial, video pendek, dan konten digital yang terus-menerus memancing pelepasan dopamin di otak. Semakin sering seseorang mencari hiburan instan, semakin besar keinginan untuk mengulanginya.
Fenomena itu terlihat jelas dalam keseharian. Bangun tidur langsung mencari ponsel, saat makan membuka media sosial, saat bekerja mengecek notifikasi, hingga larut malam masih menggulir layar.
“Berjam-jam habis tanpa menghasilkan pengetahuan, keterampilan, atau karya yang bermanfaat,” tulis Yulans.
Dok. Narkoba Digital
Dampak Jangka Panjang pada Generasi Muda
Kecanduan digital dinilai tidak merusak tubuh secepat narkotika, namun efeknya sistematis. Disiplin melemah, konsentrasi menurun, daya pikir tumpul, kreativitas berkurang, dan impian generasi muda ikut tergerus.
Akibatnya, budaya membaca menurun, diskusi jarang dilakukan, olahraga ditinggalkan, hubungan keluarga melemah, prestasi merosot, dan produktivitas tergantikan hiburan tanpa batas.
“Generasi yang seharusnya menjadi pencipta inovasi justru menjadi penonton yang menghabiskan hidupnya dengan menggulir layar,” tegasnya.
Ajak Lakukan Detoks Digital
Yulans menegaskan teknologi dan telepon genggam bukanlah musuh. Masalah muncul ketika manusia kehilangan kendali dalam menggunakannya.
Padahal, teknologi seharusnya menjadi alat untuk belajar, berkarya, membangun usaha, dan memperluas wawasan.
Ia mengajak generasi muda melakukan “detoks digital”. Caranya dengan mengurangi waktu tidak bermanfaat di media sosial, serta memperbanyak membaca buku, berdiskusi, berorganisasi, berolahraga, dan berkarya.
“Narkoba kimia memang dapat merusak tubuh, tetapi narkoba digital dapat merampas waktu, fokus, karakter, dan masa depan. Jika yang pertama menghancurkan kesehatan, yang kedua dapat menghancurkan potensi sebuah generasi,” pungkas Yulans.
[Redaktur: Hotbert Purba]