PAPUA.WAHANANEWS.CO, Wamena – Persekutuan Pemuda Baptis Wilayah Hubula bersama pemuda sahabat GIDI, KINGMI, GKI dan Katolik menggelar nonton bareng film dokumenter "Pesta Babi" di Gedung Gereja Baptis Bahtera, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Sabtu 14 Juni 2026.
Kegiatan diawali diskusi panel menghadirkan dua narasumber: Marsela Tabuni dan Angginak Sepi Wanimbo, pegiat literasi muda Papua Pegunungan.
Baca Juga:
Permohonan Perlindungan Tokoh Adat Papua Terkait Pesta Babi Ditelaah LPSK
Marsela Tabuni menegaskan pentingnya generasi muda gereja dan bangsa belajar sejarah orang asli Papua. “Hari ini jika generasi muda lebih banyak belajar sejarah orang lain maka kita akan mudah tertipu. Tetapi belajar sejarah sendiri, kita akan berdiri kuat di atas negeri dan tanah Papua,” ujarnya.
Ia mengajak anak muda mengenali jati diri untuk menata masa depan yang penuh harapan.
Angginak Sepi Wanimbo menyampaikan, Tuhan menempatkan orang asli Papua di tanah ini dengan bahasa, budaya, dan ras tersendiri. “Orang asli Papua hidup dengan kearifan lokal. Mereka jaga tanah sebagai ibu yang melahirkan dan membesarkan. Hutan sebagai supermarket, sebagai napas kehidupan,” katanya.
Baca Juga:
ETH Berjanji Kawal Kasus Dugaan Kriminalisasi, Oknum Polsek Maro Sebo Resmi Dilaporkan ke Polda Jambi
Menurut Angginak, tugas orang asli Papua adalah merawat tanah dan hutan. “Jika tidak diberi pupuk secara teratur, maka hilangnya warisan kekayaan bagi orang asli Papua.”
Ia juga menyoroti operasi Proyek Strategis Nasional di Merauke. “Menurut pemerintah pusat, PSN untuk kesejahteraan orang asli Papua. Tapi menurut orang asli Papua, PSN untuk orang luar. Terbukti hari ini pekerja di perusahaan yang operasi adalah sahabat-sahabat dari nusantara, sementara anak daerah jadi penonton,” ungkapnya.
Angginak menilai kegagalan pemimpin gereja, pemerintah, dan adat melindungi tanah, gunung, dan manusianya. Ia berpesan agar pemimpin daerah bijaksana dalam program pembangunan di tanah Papua.
Angginak berpesan kepada sarjana muda Papua agar menjadikan ilmu sebagai senjata untuk selamatkan hutan, tanah, dan manusia. “Jangan jadikan ilmu untuk mempersulit, menyiksa, membunuh, atau mencuri. Tapi gunakan keterampilan untuk menolong sesama,” tegasnya.
Ia menekankan, Papua bukan tanah kosong. “Sejak Tuhan ciptakan, Papua sudah ada penduduknya yaitu orang asli Papua yang hidup berkarya, beranak cucu di negeri ini. Jadi anggapan Papua tanah kosong itu kebohongan besar,” kata Angginak.
Ia mengajak orang asli Papua bersatu. “Jangan bermimpi orang dari negara luar akan datang bantu derita orang asli Papua. Orang asli Papua sendiri saatnya bangkit menentukan masa depan dengan semangat.”
Usai diskusi, Angginak yang juga pegiat literasi menyerahkan dua buku karya anak Papua kepada Marsela Tabuni. Buku itu berjudul "Sejarah Kepemimpinan 6 Pemuda Baptis Papua" dan karangan Socratez Sofyan Yoman bertema "Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua". Buku diserahkan untuk Lapak Baca di Tugu Menara Salib Jayawijaya, Wamena.
“Penyaluran buku ini upaya nyata ajak anak muda budayakan membaca di kampus, gereja, komunitas, dan kantor pelayanan,” ujar Angginak.
Ia menilai literasi cara efektif mencerdaskan dan menolong sesama. Karena itu ia meminta pemimpin gereja membuka kelas literasi di setiap tempat pelayanan. “Pemerintah dan gereja bangun sarana megah, tapi jika pembangunan manusianya lemah, kita akan jadi tamu di negeri sendiri,” katanya.
Angginak mengajak belajar dari honai, gereja, komunitas literasi, dan sekolah untuk siapkan generasi muda berkualitas dan takut akan Tuhan. “Penduduk orang asli Papua terus berkurang. Jangan bedakan gunung dan pantai. Saatnya orang asli Papua dari Sorong sampai Merauke bersatu selamatkan manusia, hutan, dan tanah Papua,” tegasnya.
Ketua Pemuda Baptis Wilayah Hubula, Yeslin Yoman, menyampaikan terima kasih kepada narasumber. Ia menyebut kegiatan positif seperti ini akan terus dilakukan. “Kami minta dukungan doa, daya, dan dana dari tokoh, kader, intelektual, serta semua pihak,” ujarnya.
Yeslin menambahkan, diskusi panel dan pemutaran film akan digelar rutin di setiap gereja. Ia mengajak generasi muda bersatu memajukan pelayanan Tuhan dengan bergandengan tangan.
Kegiatan nonton bareng dan diskusi ini jadi ruang bersama pemuda lintas gereja di Wamena untuk merawat identitas, memperkuat literasi, dan menjaga tanah Papua lewat aksi nyata.
[Redaktur: Hotbert Purba]