“Yesus berkata: Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagimu. Artinya, hidup kita juga harus diserahkan kepada keluarga, rekan kerja, dan sesama. Itulah Ekaristi yang hidup,” tegasnya.
Selain itu, ia menyoroti makna pembasuhan kaki sebagai simbol kerendahan hati dan pelayanan. Ia membagikan pengalaman pribadinya saat masih menjadi frater, yang mengajarkannya tentang arti sejati dari melayani, bahkan dalam situasi yang tidak nyaman.
Baca Juga:
Arti dan Makna Kamis Putih bagi Umat Katolik
“Pelayanan sering membawa kita ke situasi yang sulit, bahkan menyakitkan. Namun justru di sanalah kita belajar arti iman dan penyerahan diri,” ujarnya.
Lebih lanjut, Pastor Leonardus menekankan bahwa kasih sejati selalu menuntut pengorbanan dan harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Kasih itu bukan teori, tetapi perintah untuk dilaksanakan. Kasih itu nyata dalam pelayanan dan pengorbanan,” katanya.
Baca Juga:
Polda NTT Kerahkan Kekuatan Penuh untuk Amankan Ibadah Paskah
Perayaan Kamis Putih sendiri merupakan peringatan Perjamuan Malam Terakhir Yesus bersama para murid-Nya. Dalam peristiwa tersebut, Yesus menetapkan Sakramen Ekaristi dan Imamat, serta memberikan teladan pelayanan melalui pembasuhan kaki. Kata “Kamis Putih” juga berkaitan dengan “mandatum” atau perintah baru, yaitu agar umat saling mengasihi.
Usai penerimaan Sakramen Mahakudus, dilanjutkan dengan prosesi pemindahan Sakramen dari dalam gereja menuju Gua Maria atau taman doa paroki. Prosesi ini menjadi simbol permenungan akan Yesus yang berdoa di Taman Getsemani sebelum penangkapan-Nya.
Selanjutnya, adorasi Sakramen Mahakudus dipimpin oleh Pastor Paroki. Dalam suasana hening dan khusyuk, umat diajak untuk berdoa, merenung, serta menghormati kehadiran Kristus dalam Sakramen Mahakudus.