PAPUA.WAHANANEWS.CO, Jakarta - Billy Mambrasar, putra asli Papua yang kini menjabat sebagai Anggota Komite Eksekutif Presiden RI untuk OTSUS Papua, sekaligus Peneliti Kebijakan Ekonomi di Pusat Kajian Daya Saing ASEAN di Batam, temui langsung The Secretary of Climate Change and Low Carbon Policy, sekaligus para ahli investasi komoditas berkelanjutan kedutaan besar Inggris, dan memperkenalkan sektor cocoa di Papua dan meminta untuk peningkatan investasi langsung dari Eropa, khususnya para investor Inggris di sektor ini.
Pertemuan tersebut berlangsung selama 2 jam di ruang rapat Utama Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia, Jalan Patra Kuningan, Jakarta Selatan.
Baca Juga:
Kemendag Rilis HPE CPO, Biji Kakao Hingga Produk Kulit Periode September 2025
Rapat tersebut menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang akan langsung di tindaklanjuti oleh Billy Mambrasar bersama timnya. Salah satunya adalah mempertemukan langsung Investor dari Inggris dengan Bupati dan Wakil Bupati Kepulauan Yapen yang sedianya akan dilaksanakan di tanggal 19 Januari 2026 nanti.
Hal ini dalam rangka mendukung visi dan misi Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong penguatan investasi di sektor pertanian sebagai bagian dari strategi mempercepat pembangunan ekonomi Papua, termasuk didalamnya hilirasi pertanian.
Baca Juga:
Pemprov Sulbar Alokasikan Rp15 Miliar untuk Pengembangan Kakao di Polman
Salah satunya adalah investasi dalam komoditas unggulan daerah , yang permintaan globalnya cukup tinggi, seperti coklat dan kopi yang pengembangannya diarahkan untuk memiliki nilai tambah, berdaya saing global, dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
“Papua memiliki potensi kakao yang sangat besar. Yang kita dorong hari ini bukan sekadar produksi, tetapi penguatan ekosistem dari hulu ke hilir agar kakao Yapen bisa masuk ke rantai pasok global secara berkelanjutan,” ujar Billy Mambrasar.
Berdasarkan data daerah, ada total hampir 1,000 hektar yang akan dikembangkan di Kepulauan Yapen, mulai dari kawasan Rosbori–Windesi di Distrik Windesi yang akan menyumbang sekitar 56 persen produksi kakao Kepulauan Yapen, meski hanya mencakup sekitar 16 persen luas lahan kakao.