Kondisi ini menunjukkan produktivitas tinggi yang dinilai layak dikembangkan sebagai sentra kakao fermentasi berkualitas ekspor.
Billy menegaskan, pengembangan kakao harus berbasis pada peningkatan kesejahteraan petani dan pelaku usaha lokal.
Baca Juga:
Kemendag Rilis HPE CPO, Biji Kakao Hingga Produk Kulit Periode September 2025
“Kerja sama dengan Pemerintah Inggris kami arahkan untuk transfer pengetahuan, peningkatan kualitas, akses pembiayaan, dan pembukaan pasar. Tujuannya agar petani Papua tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi memperoleh nilai tambah yang adil,” ujarnya.
Langkah ini mendapat dukungan dari Bupati Kepulauan Yapen, Benyamin Arisoy, dan Wakil Bupati Kepulauan Yapen, Roy Palunga, yang berkomitmen menjadikan kakao sebagai salah satu pilar ekonomi daerah. Sementara itu, pihak Kedutaan Besar Inggris menyatakan ketertarikan untuk menjajaki kerja sama di sektor komoditas berkelanjutan.
Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan mitra internasional ini diharapkan memperkuat posisi kakao Papua di pasar global sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Baca Juga:
Pemprov Sulbar Alokasikan Rp15 Miliar untuk Pengembangan Kakao di Polman
Hubungan antara Billy Mambrasar dengan Pemerintah Inggris bukanlah hal yang baru. Billy memiliki rekam jejak pendidikan internasional, termasuk pernah mengenyam pendidikan di dua institusi terkemuka di Inggris, yakni University of London – London School of Economics (LSE), tempatnya menyelesaikan gelar sarjananya yang kedua, serta University of Oxford, dimana ia pernah menempuh pendidikan postgraduatenya.
Selain itu, Billy pernah bekerja hingga managerial level di Perusahaan Energi asal Inggris, British Petroleum, sebelum terjun ke dunia ekonomi, investasi, dan kebijakan public.
Latar belakang akademik dan professional tersebut turut memperkuat kapasitas Billy dalam menjembatani kerja sama internasional, khususnya dalam mendorong diplomasi ekonomi dan investasi berkelanjutan bagi Papua.