PAPUA.WAHANANEWS.CO, Tanah Papua – Beredarnya dua rekaman video berisi pernyataan berbeda dari tokoh masyarakat adat Malind, Mama Yasinta Moyuwend, memunculkan sorotan terkait tekanan yang dialami warga adat penolak Proyek Strategis Nasional (PSN) di wilayahnya. Perbedaan isi kedua video itu memicu dugaan adanya tekanan dan intimidasi yang membuat narasi perjuangan masyarakat adat terdistorsi.
Video pertama diproduksi tim pembuat film dokumenter "Pesta Babi". Dalam rekaman yang diambil pada 6 Maret 2026 di Jayapura itu, Mama Yasinta, perempuan adat Malind asal Kampung Maklew, berbicara sebagai bagian dari kelompok masyarakat sipil yang memperjuangkan hak ulayat dan menolak pembangunan PSN. Ia menyampaikan ketidaksetujuan atas proyek yang dinilai merampas ruang hidup dan merusak lingkungan.
Baca Juga:
Satelit Nusantara Lima Beroperasi, Percepat Pemerataan Internet Terutama di Wilayah 3T
Belakangan beredar video kedua yang menampilkan Mama Yasinta di kampung halamannya dengan pernyataan yang berbeda. Video tersebut diketahui direkam oleh pihak yang diduga anggota militer dan disebarkan untuk membantah isi film dokumenter serta membangun narasi tandingan yang mendukung keberadaan PSN.
Kasus serupa sebelumnya juga terjadi di Kampung Maklew. Seorang warga asli Malind pernah membuat pernyataan dukungan terhadap PSN setelah diduga didekati oknum aparat dan menerima uang Rp2 juta sebagai imbalan. Pola yang sama kini diduga dialami Mama Yasinta.
Informasi yang diterima menyebutkan, sejak isi film "Pesta Babi" menyebar dan mendapat perhatian publik, tekanan terhadap warga yang menolak proyek meningkat. Sejumlah warga yang bersikap tegas menolak PSN diketahui mengalami intimidasi.
Baca Juga:
Puan Maharani Turun Tangan, DPR Usut Pembubaran Film Pesta Babi
Kondisi Mama Yasinta disebut semakin mencemaskan. Sejak awal April lalu, laporan masuk bahwa ia berada dalam tekanan berat. Upaya melaporkan kondisi ini ke Komnas HAM sempat terkendala karena laporan dinilai baru bisa diproses jika sudah terjadi ancaman fisik secara nyata. Hingga Jumat 22 Mei 2026, Mama Yasinta disebut masih berada dalam ketakutan mendalam.
Perubahan perilaku dan kehadiran aparat militer juga semakin terasa di wilayah terdampak PSN. Di Kampung Nakias, sekelompok militer terlihat berpatroli dengan kendaraan bersenjata lengkap saat warga dari marga Kamuyen melakukan pemalangan jalan sebagai bentuk protes atas penyerobotan lahan adat. Adegan tersebut terekam video dan menyebar luas di media sosial.
Melihat pola kejadian yang dialami Mama Yasinta, para pegiat hak asasi manusia, lingkungan, dan pembuat film menyoroti pentingnya perubahan pendekatan dalam mendokumentasikan perjuangan masyarakat adat di Papua.
“Papua tidak sesederhana yang sering dipikirkan banyak orang. Kesalahan terbesar kita sebagai pegiat lingkungan dan HAM adalah membiarkan korban atau narasumber berjuang sendirian saat mereka kembali ke kampung atau rumahnya,” ujar seorang pegiat yang memantau kasus ini.
Ada tiga usulan yang disampaikan kepada pembuat film, jurnalis, dan pendamping masyarakat agar kasus serupa tidak terulang:
1. Analisis dan mitigasi risiko sejak awal
Pembuat karya wajib melakukan analisis risiko dan menyusun strategi mitigasi jauh sebelum proses pembuatan dimulai. Proses produksi harus dirancang sebagai bagian dari perlindungan, bukan menjadi pemicu bahaya bagi narasumber.
2. Mekanisme perlindungan khusus
Diperlukan sistem perlindungan yang jelas dan berkelanjutan bagi narasumber, terutama mereka yang berisiko tinggi menjadi sasaran intimidasi setelah menyampaikan pendapatnya.
3. Pendampingan langsung bagi narasumber rentan
Kondisi Mama Yasinta yang rentan dan penuh tekanan menuntut kehadiran pendampingan langsung. Ia tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian.
Para pegiat mengingatkan, jika aspek keamanan dan perlindungan diabaikan, aktivitas peliputan justru dapat menyeret narasumber ke dalam bahaya nyata. Publik diminta memahami konteks di balik kedua video tersebut bahwa perubahan pernyataan bukan perubahan hati, melainkan hasil dari tekanan yang dialami warga adat.
[Redaktur: Hotbert Purba]