PAPUA.WAHANANEWS.CO, Tiom – Pegiat Literasi Papua Pegunungan Angginak Sepi Wanimbo menegaskan tanah dan hutan merupakan ibu yang membesarkan manusia Papua, sehingga wajib dijaga, dirawat, dan dikelola untuk masa depan generasi. Pernyataan itu disampaikan dalam opini yang dirilisnya, dikutip dari buku "Titus Pekei dan Napas Perjuangan Noken Papua" halaman 1-2 Tahun 2026.
Menurut Angginak, Papua tidak membesarkan manusia dengan kata-kata, melainkan lewat alam yang luas, tanah yang harus dipijak dengan hormat, dan waktu yang menanamkan kesabaran. Bagi orang asli Papua, tanah bukan sekadar ruang hidup, melainkan ibu yang memberi makan, melindungi, dan menegur saat keseimbangan dilanggar.
Baca Juga:
LP3BH Manokwari Minta Arahan Sejuk dan Damai Presiden Prabowo kepada TNI-Polri, Menyikapi 1 Desember di Tanah Papua
“Dari tanah inilah manusia belajar mengenali asal-usulnya, memahami posisinya dalam kehidupan, dan menyadari ke mana kelak ia akan kembali,” tulis Angginak.
Tanah simpan nilai dan aturan hidup
Ia menyebut tanah Papua menyimpan lebih dari kekayaan alam. Di dalamnya ada nilai, aturan hidup, dan ingatan kolektif yang diwariskan turun-temurun. Bukit, danau, hutan, dan sungai bukan hanya bentang geografis, melainkan penanda sejarah dan identitas. Alam tidak diperlakukan sebagai objek untuk ditaklukkan, tetapi sebagai subjek kehidupan yang diajak hidup berdampingan.
Baca Juga:
Dukung Visi Prabowo, PLN dan Pemerintah Bangun PLTM di Tanah Papua
Relasi manusia dan alam dibangun atas dasar saling menjaga. Alam memberi kehidupan, manusia bertanggung jawab merawatnya. Prinsip itu hadir dalam praktik membuka kebun, mengambil hasil hutan, hingga ritual adat yang selalu mempertimbangkan keseimbangan.
“Sebelum mengenal pendidikan formal, orang asli Papua telah belajar tentang kehidupan melalui tanah yang dipijaknya, air yang diminumnya dan hutan yang menaunginya,” tulisnya.
Tanah penopang ekonomi dan pelayanan