1. Tanda bahwa perempuan itu sudah tidak muda atau nona lagi, dan sudah menjadi milik laki-laki, sehingga tidak ada laki-laki yang melirik atau menggoda gadis itu;
2. Tanda membangun hubungan harmonis turun-temurun antara pihak laki-laki dan perempuan supaya terpelihara rasa saling hormat pihak laki-laki dan perempuan.
Baca Juga:
Diduga Penyelewengan Dana Sosial di Distrik Yiluk Lanny Jaya, Picu Kericuhan Warga
3. Tanda ucapan terima kasih dari pihak keluarga laki-laki kepada pihak perempuan, karena kedua orang tua perempuan dan saudara-saudaranya telah memelihara dan membesarkan anak gadis perempuan. Singkat kata, laki-laki minta permisi dengan cara terhirmat dan bermartabat untuk menyambut gadis itu sebagai teman hidupnya.
4. Yang terakhir, untuk menghindari supaya perempuan itu tidak merasa bebas dan tidak ada beban moril karena laki-laki belum atau tidak pernah berterima kasih kepada orang tua dan keluarga yang membesarkan perempuan Lani.
Dalam suku Lani, perempuan dilarang kerja keras seperti membuat honai, membuat pagar, kerja kebun dan pekerjaan yang membutuhkan tenaga. Perempuan Lani adalah wanita-wanita mulia dan terhormat di hati laki-laki suku Lani. Perempuan Lani adalah surganya laki-laki suku Lani.
Baca Juga:
Persilanny Raih Peringkat Ke-4 Liga 4 PSSI Papua Pegunungan, Askab Apresiasi Pemkab dan Masyarakat Kabupaten Lanny Jaya
Jadi, di depan mata laki-laki suku Lani jangan pernah marah atau pukul saudara perempuan. Pihak perempuan seluruh kampung itu akan marah dan menyerang keluarga laki-laki yang meremehkan dan merendahkan harga diri saudara perempuan mereka. Karena di dalam peradaban hidup orang Lani bahwa perempuan itu mulia dan segala-galanya.
Kalau ada laki-laki Lani yang memukul dan melukai istrinya itu patut dipertanyakan. Perbedaan pendapat dalam rumah tangga itu sudah merupakan dinamika dalam keluarga dan hal yang normal. Memukul isteri itu bukan nilai hidup orang Lani.
Selama ini dikembangkan mitos bahwa laki-laki Lani membayar "mas kawin" dan ia perlakukan perempuan itu sesuka hatinya karena sudah "bayar mas kawin", ini mitos yang sangat menyesatkan dan salah.