Menurut Muchlis, doa tidak dimaksudkan menggantikan kerja keras, tetapi menjadi kekuatan moral yang mengiringi setiap ikhtiar membangun bangsa. Kemajuan Indonesia hanya dapat dicapai apabila pembangunan fisik berjalan beriringan dengan pembangunan karakter, persatuan, serta penguatan nilai-nilai spiritual.
"Momentum peringatan kemerdekaan bukan hanya untuk mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi seluruh elemen bangsa untuk memperkuat persatuan melalui doa dan kebersamaan. Mari kita awali bulan kemerdekaan dengan memanjatkan doa agar Indonesia senantiasa diberi kedamaian, keberkahan, serta mampu mewujudkan cita-cita menjadi bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur," katanya.
Baca Juga:
BMKG Prediksi Lebaran 2026 Jatuh 21 Maret, Hilal 19 Maret Belum Penuhi Kriteria
Sementara itu, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam sekaligus Ketua Panitia Pelaksana, Abu Rokhmad, mengatakan bahwa seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk mencerminkan wajah Indonesia yang rukun dalam keberagaman.
"Momentum ini menghadirkan wajah Indonesia yang sesungguhnya. Berbeda agama, berbeda suku, berbeda budaya, tetapi dipersatukan oleh rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kecintaan yang sama kepada bangsa dan negara," ujar Abu Rokhmad.
Ia menambahkan, doa yang dipanjatkan bersama diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi energi moral yang mendorong masyarakat untuk terus menjaga kerukunan, memperkuat solidaritas sosial, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.
Baca Juga:
Kemenag Jelaskan Jet Pribadi Menag Saat Resmikan Balai Sarkiah di Takalar
"Kami berharap doa menjadi kekuatan moral yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Mulai dari menjaga persaudaraan, saling membantu, hingga menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara dengan sebaik-baiknya. Dengan semangat itulah kita bersama-sama melangkah menuju Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur," tuturnya.
Melalui penyelenggaraan dzikir dan doa kebangsaan, pemerintah berharap peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI tidak hanya menjadi perayaan atas perjalanan bangsa selama 81 tahun, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat persatuan nasional, menumbuhkan optimisme, serta mengokohkan komitmen seluruh anak bangsa dalam membangun Indonesia yang semakin berdaulat, adil, makmur, dan diberkahi Tuhan.
[Redaktur: Hotbert Purba]