2. Merawat Optimisme
Penilaian mayoritas orang adalah pesimis. Presiden RI Prabowo Subianto tidak akan mencari solusi akar konflik Papua Barat yang sudah kronis selama enam dekade ini.
Baca Juga:
Naniek Deyang Mundur dari Kepala BGN
Dalam keadaan pesimisme ini, saya berupaya menerobos kegelapan pikiran dan hati mayoritas rakyat dengan menilai Presiden Prabowo dari persepsi dan perspektif yang berbeda.
Saya mau melihat Prabowo secara utuh, seperti Tuhan Allah melihatnya, dan bukan seperti ukuran manusia yang selalu melihat sisi negatif dan keterbatasan manusia, tanpa melihat dan menghargai harta berharga yang ditulis Tuhan di loh-loh hati manusia sebagai gambar dan rupa Allah.
Jujur, saya tidak mengabaikan, mengesampingkan, atau menutupi kejahatan pelanggaran HAM berat yang melibatkan Prabowo pada 1998 dan 1999. Itu adalah fakta dan sejarah kelam yang perlu diselesaikan dengan pendekatan dialogis yang humanis, untuk menuju "win-win solution", tanpa mengorbankan salah satu pihak.
Baca Juga:
Presiden Prabowo Blak-blakan Resah Timnas Indonesia Belum Lolos Piala Dunia: Jangan Anggap Enteng Sepak Bola
Persepsi saya adalah melihat nilai-nilai positif yang ada dalam diri Prabowo Subianto sebagai seorang manusia yang tentu memiliki kelebihan dan keterbatasan.
Kelebihan Presiden Prabowo saya lihat sebagai cahaya dari jendela dan pintu yang masuk menerangi hati dan pikiran manusia yang pesimis, negatif, dan gelap, supaya hati mereka terbuka dan pikiran menjadi terang. Dengan demikian kita membangun "trust" dan sebuah jembatan untuk melihat akar konflik Papua Barat yang sudah kronis.
Rakyat dan bangsa Papua membutuhkan harapan hidup, pencerahan baru, paradigma baru, persepsi baru, "mindset" baru, dan solusi-solusi baru. Bukan pendapat, analisis, dan penafsiran lama yang membawa kami ke jalan ketidakpastian, kecemasan, kekecewaan, dan kegelapan.