Guru - guru didampingi oleh mentor yang berpengalaman dalam menerapkan pendidikan kontekstual. Peningkatan akses dan kualitas pendidikan dengan pembangunan infrastruktur, pemerintah membangun sekolah - sekolah yang layak di seluruh wilayah Lanny Jaya. Penyediaan buku dan alat peraga pemerintah menyediakan buku - buku dan alat peraga yang relevan dengan konteks lokal.
Pemerintah memberikan beasiswa kepada siswa - siswi berpretasi dari keluarga kurang mampu. Orang tua dilibatkan dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan sekolah. Tokoh masyarakat dilibatkan sebagai narasumber dan mentor bagi siswa. Lembaga adat dilibatkan dalam pelestarian budaya dan tradisi lokal.
Baca Juga:
Gerakan Literasi dari Kota ke Dusun, Pegiat Literasi Papua Pegunungan Apresiasi Relawan Literasi di Tolikara
Pembangunan pendidikan kontekstual di Lanny Jaya membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, pemerintah pusat, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat setempat.
Pemerintah daerah bertanggung jawab untuk menyediakan anggaran dan kebijakan yang mendukung pendidikan kontekstual. Pemetintah pusat bertanggung jawab untuk memberikan bantuan teknis dan pelatihan. Lembaga swadaya masyarakat dapat memberikan pendampingan dan advokasi. Masyarakat setempat bertanggung jawab untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan sekolah dan melestarikan budaya lokal.
Pendidikan kontekstual adalah solusi yang tepat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Lanny Jaya. Dengan mengintegrasikan budaya, bahasa, dan lingkungan lokal ke dalam kurikulum, pendidikan menjadi lebih relevan, menarik dan mudah dipahami oleh siswa - siswi.
Baca Juga:
Ilmu untuk Pembebasan: Literasi, Hukum, dan Martabat Manusia Papua
Pembangunan pendidikan kontekstual membutuhkan komitmen dan kerjasama dari semua pihak. Dengan kerja keras dan dedikasi, dapat mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan relevan bagi masyarakat Lanny Jaya. "Manius Wenda, Masa Depan SDM Papua, Menjawab Tantangan Pembangunan Berbasis Sumber Daya Alam Di Provinsi Papua Pegunungan. Hal. 66 - 68 Tahun 2025".
Suatu Kekayaan dan warisan berharga yang diwariskan oleh moyang kepada Orang Asli Papua berjumlah sekitar 428 bahasa dan budaya yang ada di negeri ini. Kini 7 bahasa dan budaya sudah mulai terkikis oleh perkembangan zaman sekarang sehingga setiap provinsi dan kabupaten kota di tanah Papua mempunyai tanggung jawab besar untuk mendorong sebuah produk hukum yang mengatur bahasa dan budaya lokal Papua, mengajar di setiap sekolah masuk materi muatan lokal (mulok).
Melihat dari pengalaman Provinsi dan kabupaten kota diluar Papua. Mereka sudah lama melestarikan bahasa dan budayanya mereka mengajar di setiap sekolah sebabnya hingga hari ini bahasa dan budaya terus dirawat, dilestarikan dari generasi ke generasi akan tetap hidup kuat.