"Bagi kami Papua dari sekian banyak provinsi dan kabupaten kota yang ada hanya beberapa kabupaten yang sudah mendorong penting bahasa dan budaya mengajar di setiap sekolah dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), yaitu Kabupaten Tolikara, Jayapura, Biak, Jayawijaya dan kabupaten lain yang penulis tidak sebut satu persatu".
Kabupaten yang peduli dengan bahasa, budaya sudah mulai dorong mengajar di setiap sekolah lalu, pertanyaan sederhana mengapa kabupaten lain di tanah Papua. Tidak dorong bahasa dan budaya untuk pakai mengajar di bangku studi? Ini suatu kegagalan bagi pengambil kebijakan yang sedang memusnakan nilai - nilai kekayaan warisan budaya Orang Asli Papua.
Baca Juga:
Gerakan Literasi dari Kota ke Dusun, Pegiat Literasi Papua Pegunungan Apresiasi Relawan Literasi di Tolikara
Sejak lama hingga hari ini hampir setiap sekolah di tanah Papua. Bahan pembelajaran untuk guru pakai mengajar di setiap sekolah buku - buku disiapkan oleh orang Jakarta tidak sesuai konteks di tanah Papua lalu mengajar di setiap sekolah. Kebijakan Ini sedang melumpuh, membutahkan bagi orang asli Papua, sebab itu kami tidak bisa biasa - biasa saja, tetapi kami bangkit untuk mengagas teori atau buku bahan mengajar di sekolah sesuai kebutuhan dan konteks Papua. Untuk menghidupkan kembali nilai - nilai bahasa, budaya dan sejarah Papua untuk mewujudkan kemajuan pembangunan pendidikan di tanah Papua.
Tuhan sudah siapkan dan pakai anak asli Lani seperti Mis Kogoya, Toni Kogoya, Angginak Sepi Wanimbo, Tabebak Withen Kolago, Socratez Sofyan Yoman dan penulis lainnya dengan kekayaan intelektual yang dimiliki oleh mereka sudah siapkan buku - buku bacaan berisi tentang bahasa, budaya dan sejarah orang asli Lani, tetapi sampai hari ini karya mereka dipakai oleh kabupaten lain tetapi sementara kabupaten asalnya hati tidak tergerak untuk mendukung dan mendorong pelestarian bahasa, budaya dan sejarah di setiap sekolah Beam - Kwiyawagi.
Setiap anak negeri mempunyai konsep kemajuan pembangunan tentu didukung oleh berbagai elemen dan dengan hari ini saya belum melihat satu produk hukum yang didorong, ditetapkan oleh, Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Lanny Jaya (DPRK). Soal keberpihakan pada rakyat Lanny Jaya sehingga kewenangan kepercayaan yang dimiliki oleh rakyat berdirilah bersama rakyat menyambungkan lidah mereka untuk merasakan keadilan, kedamaian dan mendorong untuk hidupakan bahasa dan budaya Lani dalam satu payung hukum yang kuat, untuk dikenang sepanjang sejarah.
Baca Juga:
Ilmu untuk Pembebasan: Literasi, Hukum, dan Martabat Manusia Papua
Melihat kabupaten kota lain materi muatan lokal (Mulok) ini sambil mengajar mereka sedang mengatur dan mendorong produk hukum, maka diharapkan di Kabupaten Lanny jaya juga mendorong bagaimana setiap sekolah mengajar bahasa dan budaya Lani. sebab bahan mengajar buku - bukunya anak daerah sudah disiapkan.
Bahasa dan budaya Lani diberikan oleh Tuhan melalui nene - tete moyang Orang Asli Lani diwariskan kepada kami ini suatu kekayaan yang berharga untuk masa depan gereja dan bangsa oleh sebab itu pemerintah, gereja, lembaga adat, komunitas literasi dan berbagai organ bangkitkan bahasa dan budaya untuk kita tetap hidupkan kembali di tanah Lanny Jaya Papua.
"Suatu bangsa yang kuat hanya dengan bahasa, budaya dan sejarah yang dimilikinya tetapi bangsanya tidak menjaga, melestarikan bahasa, budaya dan sejarahnya maka bangsanya akan kehilangan identitas dan warisan kebudayaan yang diberikan oleh Tuhan kepada moyang Orang Asli Lani Papua".