"Mendidik anak-anak Papua tidak cukup hanya melalui sekolah formal. Diperlukan gerakan membaca yang hidup di tengah masyarakat. Seluruh Tanah Papua membutuhkan kebangkitan budaya baca sebagai fondasi untuk mencerdaskan anak negeri," terangnya.
Dibandingkan dengan daerah-daerah lain di luar Papua, banyak wilayah telah memiliki sarana dan prasarana pendidikan yang memadai serta tenaga pendidik yang cukup. Sebaliknya, di Papua masih ditemukan keterbatasan fasilitas pendidikan dan kekurangan tenaga pengajar. Dalam kondisi inilah gerakan literasi menjadi salah satu jalan strategis untuk menjembatani kesenjangan dan mencerdaskan generasi Tolikara dan Papua secara luas.
Baca Juga:
54 Peserta Ikuti Seleksi Duta Baca Muara Enim 2025
Hari ini, banyak anak-anak Papua menjadi korban berbagai penyakit sosial: seks bebas, minuman keras, penyalahgunaan narkoba, ganja, hingga lem aibon. Fenomena ini tidak terjadi tanpa sebab. Lemahnya perhatian dan keterlibatan orang tua, intelektual, tokoh masyarakat, pemerintah, dan gereja turut menyumbang meningkatnya angka korban penyakit sosial tersebut.
"Akar dari semua persoalan itu adalah kurangnya pengetahuan dan informasi yang benar, sehingga anak-anak tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang merusak masa depan mereka. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab moral dan intelektual bagi setiap anak daerah yang telah menempuh pendidikan tinggi untuk mengambil langkah nyata dalam menyelamatkan manusia Papua," ungkapnya.
Ilmu yang diperoleh dari bangku perguruan tinggi, jika tidak diabdikan sedikit pun bagi rakyat, maka hidup itu sesungguhnya menjadi sia-sia. Sebaliknya, ilmu yang digunakan untuk berbuat baik, meskipun kecil, akan membawa manfaat besar bagi sesama manusia.
Baca Juga:
Gedung Perpustakaan Daerah Muara Enim Dipastikan Operasional 2026, Bupati Edison Lakukan Soft Launching
Ironisnya, tidak sedikit orang yang kembali ke daerah asal dengan niat membangun, namun dalam praktiknya justru menggunakan ilmunya sebagai senjata untuk mempersulit orang lain, menciptakan konflik, atau bahkan merugikan masyarakat. Ini adalah pengkhianatan terhadap hakikat pendidikan itu sendiri.
Kecerdasan yang Tuhan berikan kepada setiap manusia sejatinya adalah anugerah untuk menghadirkan kebaikan. Mari kita menjadi lilin-lilin kecil yang menerangi kegelapan, baik di kota maupun di kampung, di mana pun kita berada.
Gerakan kebangkitan literasi menuntut solidaritas yang kuat. Inilah saatnya anak-anak negeri Papua bangkit, bersatu hati, dan bergerak bersama demi pembangunan manusia yang berkelanjutan.