“Papua tidak sesederhana yang sering dipikirkan banyak orang. Kesalahan terbesar kita sebagai pegiat lingkungan dan HAM adalah membiarkan korban atau narasumber berjuang sendirian saat mereka kembali ke kampung atau rumahnya,” ujar seorang pegiat yang memantau kasus ini.
Ada tiga usulan yang disampaikan kepada pembuat film, jurnalis, dan pendamping masyarakat agar kasus serupa tidak terulang:
Baca Juga:
Satelit Nusantara Lima Beroperasi, Percepat Pemerataan Internet Terutama di Wilayah 3T
1. Analisis dan mitigasi risiko sejak awal
Pembuat karya wajib melakukan analisis risiko dan menyusun strategi mitigasi jauh sebelum proses pembuatan dimulai. Proses produksi harus dirancang sebagai bagian dari perlindungan, bukan menjadi pemicu bahaya bagi narasumber.
2. Mekanisme perlindungan khusus
Baca Juga:
Puan Maharani Turun Tangan, DPR Usut Pembubaran Film Pesta Babi
Diperlukan sistem perlindungan yang jelas dan berkelanjutan bagi narasumber, terutama mereka yang berisiko tinggi menjadi sasaran intimidasi setelah menyampaikan pendapatnya.
3. Pendampingan langsung bagi narasumber rentan
Kondisi Mama Yasinta yang rentan dan penuh tekanan menuntut kehadiran pendampingan langsung. Ia tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian.