Meskipun evakuasi cepat dilakukan, pertanyaan besar tetap menggantung: Bagaimana peluru bisa mengenai anak-anak? Apakah peluru nyasar, posisi korban terjebak di tengah baku tembak, atau ada faktor lain?. Hal ini membutuhkan investigasi forensik yang jelas, bukan sekadar asumsi.
2. Peran Ondoafi dan PMI Menjadi Kunci Kemanusiaan
Baca Juga:
Pembakaran 11 Rumah Warga di Distrik Mulia oleh OTK Diselidiki Polisi
Laporan ini menunjukkan pola yang positif namun jarang terekspos: Kerjasama antara TNI, Tokoh Adat, dan Lembaga Kemanusiaan.
Ondoafi Dianus Enumbi bertindak sebagai jembatan informasi, sementara PMI menjadi ujung tombak evakuasi. TNI fokus pada pengamanan dan pertolongan pertama. Pola ini selaras dengan prinsip "pendekatan humanis" yang digaungkan belakangan ini. Jika konsisten, kepercayaan masyarakat yang selama ini retak bisa mulai dipulihkan.
3. Klaim "Kelompok Lekagak" Harus Dibuktikan
Baca Juga:
KKB Papua Berulah Lagi, Mantan Kapolsek Mulia Tewas Ditembak
Lapdal menyebutkan kontak tembak terjadi dengan kelompok pimpinan Lekagak Telenggeng. Namun, dalam prinsip hukum, ini masih merupakan klaim sepihak. Praduga tak bersalah tetap berlaku.
Belum bisa dipastikan secara mutlak bahwa peluru yang melukai warga berasal dari kelompok tersebut atau dari pihak lain. Investigasi menyeluruh terkait jenis kaliber, arah tembakan, dan jarak tembak mutlak diperlukan agar publik tidak terbelah oleh narasi yang saling bertentangan.
III. REFLEKSI: SINAK DAN LUKA YANG TAK PERNAH SEMBUH