Ondoafi dan Big Man adalah dua sistem yang berbeda secara mendasar, seperti halnya Fun di Raja Ampat berbeda dari Tonowi di Paniai. Menggunakan sebutan yang salah, atau memperlakukan sistem yang berbeda seolah satu sistem dengan nama berbeda, adalah pelanggaran protokol yang bisa menghancurkan kepercayaan sebelum satu kata pun tentang perdamaian diucapkan. Jika figur-figur ini tidak hadir dan tidak dilibatkan dengan cara yang mereka akui sebagai sah, termasuk dipanggil dengan sebutan yang benar dalam bahasa yang mereka kenali, tanpa keterlibatan yang sah dari figur-figur kunci tersebut, proses dialog berisiko tidak memiliki fondasi sosial yang cukup kuat untuk menghasilkan kesepakatan yang berkelanjutan.
Pemimpin gereja: pendeta GKI, gembala GIDI, hadir di pelosok pegunungan yang tidak pernah sekalipun dijangkau layanan negara selama puluhan tahun, dan memiliki jaringan kepercayaan yang riil. Tokoh adat perempuan (elder) perempuan menjadi mediator konflik antar-klan secara diam-diam dengan efektivitas yang sering kali melampaui forum-forum formal. Pemuda Papua yang menavigasi dua dunia sekaligus adalah jembatan yang dibutuhkan. Namun peran-peran ini bersifat komplementer atau penguat bagi proses yang terlebih dahulu harus diakui sah oleh Big Man dan Ondoafi. Tanpa kehadiran dan pengakuan dari kedua figur sentral ini, tidak ada jaringan kepercayaan lain yang dapat menambal ketidakabsahan proses.
Baca Juga:
Dari Maluku Utara ke Raja Ampat: Penertiban Tambang dan Agenda Konsistensi Hukum
"Selama ini, berbagai upaya telah dilakukan untuk membuka ruang dialog di Papua. Namun pengalaman menunjukkan bahwa efektivitasnya sangat ditentukan oleh kesesuaian cara, aktor, dan pendekatan dengan realitas sosial masyarakat adat".
Pendekatan ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran negara, melainkan untuk memperkuat efektivitas kehadiran negara melalui fondasi legitimasi yang lebih kokoh di tingkat masyarakat. Negara tetap memegang peran kunci dalam menjamin keamanan, kepastian hukum, dan implementasi kebijakan. Namun keberhasilan kebijakan tersebut sangat ditentukan oleh sejauh mana ia berakar pada struktur sosial yang diakui oleh masyarakat Papua sendiri.
Cara Berbicara adalah Bagian dari Substansi
Baca Juga:
Institut USBA: Usulan Penanaman Kelapa Sawit Skala Besar di Papua adalah Jalan Mundur yang Membahayakan
Masalahnya bukan hanya siapa yang diundang. Masalahnya juga bagaimana forum itu dirancang. Dalam tradisi Melanesia, cara melakukan sesuatu adalah bagian tak terpisahkan dari substansi itu sendiri. Format dialog formal seperti meja bundar, notulen, dan voting seringkali tidak sepenuhnya selaras dengan tradisi musyawarah masyarakat adat Papua. Format ini cenderung menguntungkan pihak yang terbiasa dengan prosedur formal, sementara pemimpin adat yang bekerja dalam tradisi lisan dan relasional tidak selalu mendapatkan ruang yang setara.
Bayangkan perbedaannya jika forum dimulai dengan barapen, pesta batu panas tradisional di mana semua pihak menyiapkan dan makan bersama sebelum satu kata pun tentang agenda diucapkan. Dalam banyak masyarakat adat Papua, makan bersama bukan sekadar ritual sosial. Ia adalah perjanjian yang disaksikan oleh leluhur, ikatan yang melampaui kata-kata tertulis di atas kertas. Atau bayangkan forum yang dibuka dengan pertukaran sirih pinang melingkar bahasa tubuh perdamaian yang paling kuat di banyak masyarakat adat pesisir Papua.
Menawarkan sirih adalah undangan damai; menerimanya adalah penerimaan; menolaknya adalah pernyataan sikap yang sangat berat. Atau forum di mana semua peserta duduk melingkar tanpa meja pemisah, dengan talking object yang hanya boleh dipegang oleh yang sedang berbicara, dan elder berbicara terlebih dulu sesuai urutan yang ditentukan adat, bukan oleh agenda panitia dari luar.