Pernyataan Presiden Prabowo untuk membuka ruang dialog langsung dengan berbagai pihak di Papua merupakan momentum kebijakan yang penting. Momentum ini dapat menjadi titik awal bagi pendekatan yang lebih inklusif dan berakar, apabila diikuti dengan desain proses yang sesuai dengan realitas sosial masyarakat Papua. Dalam tiga puluh tahun terakhir, tidak ada pemimpin nasional yang secara terbuka menyatakan keinginan seperti itu.
Namun jendela ini hanya bermakna jika diikuti dengan cara yang benar. Mengundang orang yang salah ke meja yang salah, meskipun dengan niat yang tulus, hanya akan mengulangi pola yang sudah terbukti gagal. Yang dibutuhkan bukan hanya keberanian untuk berdialog. Yang dibutuhkan adalah kerendahan hati untuk menggelar tikar dengan cara Papua, di tanah Papua, bersama orang yang diakui oleh Papua. Dan di antara semua orang yang harus diakui oleh Papua itu, yang paling pertama adalah Big Man dan Ondoafi yang selama ini tidak pernah benar-benar diundang, bukan karena tidak diketahui keberadaannya, melainkan karena cara yang digunakan untuk mengundang tidak pernah menemui mereka di tanah dan dalam bahasa yang mereka akui sebagai sah.
Kapasitas untuk perdamaian sudah ada di dalam masyarakat Papua.
Baca Juga:
Dari Maluku Utara ke Raja Ampat: Penertiban Tambang dan Agenda Konsistensi Hukum
Ia ada dalam tradisi musyawarah Melanesia yang ribuan tahun lebih tua dari Republik ini. Ia ada dalam otoritas Big Man yang jaringannya menembus batas-batas yang tidak bisa ditembus oleh aparat negara manapun. Ia ada dalam kewibawaan Ondoafi yang hubungannya dengan tanah dan leluhur memberikan legitimasi yang tidak bisa dibeli atau diangkat dengan surat keputusan. Ia ada dalam jaringan kepercayaan gereja yang menjangkau komunitas yang tidak pernah dijangkau negara. Ia ada dalam kecerdasan pemuda Papua yang menavigasi dua dunia sekaligus. Ia ada dalam keberanian elder perempuan yang selama ini menyelesaikan konflik secara diam-diam.
Yang belum ada adalah pintu yang benar untuk masuk, dan kerendahan hati untuk membiarkan mereka yang memegang kuncinya membuka pintu itu dengan cara mereka sendiri. Perdamaian Papua tidak hanya bergantung pada keberanian untuk berdialog, tetapi juga pada kesediaan untuk merancang proses dialog dengan cara yang diakui sebagai sah oleh semua pihak. Ketika ruang itu terbuka dengan benar oleh aktor yang tepat, dengan cara yang tepat, maka arah dan isi perdamaian dapat ditentukan bersama secara bermartabat.
Penulis: Direktur Institut USBA, Charles Imbir.
Baca Juga:
Institut USBA: Usulan Penanaman Kelapa Sawit Skala Besar di Papua adalah Jalan Mundur yang Membahayakan
[Editor/Redaktur: Hotbert Purba]